SOKSI: Perempuan Tonggak Pembangunan, Perdamaian dan Demokrasi Jakarta

Untuk itu, dalam kesempatan Ramadhan ini dimana Kepedulian terhadap sesama dan masyarakat menjadi esensi penting dalam Bulan Penuh Berkah ini, maka sekaligus SOKSI ingin menegaskan lagi bahwa perempuan, termasuk Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), adalah pilar bangsa penentu masa depan peradaban Indonesia dan bahkan dunia. "PEKKA perlu mendapat perhatian Pemerintah dan masyarakat agar tidak terus menerus terhinakan dan mengalami proses peninggalan, " harap Bobby.

0
111

suara4.com – Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) menyayangkan, kurangnya perhatian dan perlakuan terhadap kaum perempuan yang sepatutnya di negeri ini, terutama yang berasal dari lawan jenisnya.

Padahal dari sesosok perempuan-lah masa depan peradaban sangat diperlukan bagi upaya mengoptimalkan pembangunan, perdamaian dan demokrasi.

“Situasi ini tampak memburuk jika menyangkut perempuan tanpa pasangan. Tidak jarang semua stereotip negatif dilekatkan kepada perempuan ini oleh para laki-laki, yang seringkali masih orang-orang terdckatnya, baik dalam lingkungan kerja, tempat tinggal maupun keluarga, ” kata Plt. Ketua Umum SOKSI, Bobby Suhardiman di Jakarta, Minggu (20/5).

Padahal menurut dia, data menunjukkan bahwa jumlah perempuan tanpa pasangan yang menjadi kepala keluarga (PEKKA) terus meningkat. Fenomena peningkatan ini menunjukkan kian gigihnya perempuan tanpa pasangan terus berkiprah dan menjalankan tugas-tugas mendasarnya baik sebagai perempuan maupun sebagai orang tua.
“Tapi ini semua belum dibarengi dengan penghargaan yang layak dari publik. Bahkan stereotip-stereotip bernada miring terhadap mereka juga tidak tampak berkurang, ” ungkap Bobby.

Untuk itu, dalam kesempatan Ramadhan ini dimana Kepedulian terhadap sesama dan masyarakat menjadi esensi penting dalam Bulan Penuh Berkah ini, maka sekaligus SOKSI ingin menegaskan lagi bahwa perempuan, termasuk Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), adalah pilar bangsa penentu masa depan peradaban Indonesia dan bahkan dunia.
“PEKKA perlu mendapat perhatian Pemerintah dan masyarakat agar tidak terus menerus terhinakan dan mengalami proses peninggalan, ” harap Bobby.

Perhatian tersebut bisa ditampilkan dalam bentuk program-program pemberdayaan, yang bukan saja ditujukan ke PEKKA dan kaum perempuan, tapi juga masyarakat pada umumnya agar mampu menghargai kiprah perempuan untuk Indonesia yang lebih maju dan martabat.